S e l a m a t   D a t a n g di Blog Pusat Sumber Belajar SMA Negeri 1 Kota Cirebon Info : Ferifikasi Data Siswa Baru/PPDB SMA RSBI Negeri 1 Kota Cirebon dari tanggal 5 - 15 Mei 2012 silahkan Klik ke www.smansa.ppdbrsbi-cirebon.org

Jumat, 12 Agustus 2011

Kegagalan Dan Kesalahan Guru

Mengapa Guru Gagal?

Sayangnya, guru kadang-kadang tidak berhasil dalam profesi yang mereka pilih. Dalam survey yang meminta kepada pengelola sekolah tentang alasan untuk kegagalan guru (pemecatan, teguran, mutasi), Profesor Jack Riegle di dalam penelitiannya menemukan guru lebih mungkin untuk dipecat karena miskin keterampilan interpersonal daripada kurangnya pengetahuan tentang pelajaran mereka. Alasan yang paling sering disebut responden adalah sebagai berikut:
1. Ketidakmampuan untuk mengatur dan mengendalikan kelas.
2. Kurangnya pengetahuan mengenai bagaimana anak-anak tumbuh dan berkembang yangberkaitan dengan interaksi guru dan murid
3. Ketidakmampuan untuk bekerja secara efektif dengan pendidik lain.
4. Ketidakmampuan untuk bekerja secara efektif dengan orangtua siswa.
5. Ketidakmampuan menguasai materi pelajaran yang diampu.
6. Lainnya: amoralitas, pembangkangan, ketidakhadiran, kekerasan pada anak, kepikunan,     atau obat-obatan dan alkohol.
Sumber: Riegle, J. D. (1985). What administrator say about why teachers fail. The Teacher Educator. 21 (1), 15-18. Baca selebihnya

Media Pembelajaran Berbasis IT


APengertian Media Pembelajaran 

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke – 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet. Baca selebihnya

Indikator Kualitas Sekolah

Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd

Sebelum masa tahun ajaran baru merupakan momen yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap program sekolah yang telah dilaksanakan pada tahun ajaran sebelumnya dan perbaikan untuk tahun ajaran yang akan datang. Evaluasi dapat dilakukan haruslah menggunakan indikator-indikator tertentu untuk memudahkan di dalam penilaian terhadap bagian-bagian tertentu. Indikator kualitas sekolah berikut merupakan rangkuman dari temuan-temuan penelitian yang banyak dilakukan pada sekolah yang paling berhasil di berbagai Negara, indikator-indikator tersebut antara lain adalah:

1. Lingkungan yang Memperkaya
Lingkungan fisik yang rapi dan menarik. Fleksibilitas dalam pengaturan ruang. Siswa secara aktif terlibat dalam pengalaman yang melibatkan kreativitas. Berbagai sumber multimedia digunakan. Memperkaya sekitar sumber belajar.

2. Aman, Mendukung Lingkungan Belajar
Humor yang tepat digunakan. Aturan jelas dan konsisten ditegakkan. Tersedia bantuan tambahan bila siswa membutuhkan. Guru memperlakukan siswa dengan sopan. Guru menggunakan nama siswa dengan baik. Guru memonitor kelas mereka dengan baik dan bergerak ke sekeliling kelas. Baca selanjutnya

Pembelajaran Dengan Eksplorasi, Elaborasi, Dan Konfirmasi


Saat ini guru dianjurkan untuk membuat RPP dan silabus yang menggunakan fase-fase eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Fase-fase ini berdasarkan Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Pembelajaran. Namun belum banyak yang memahami, oleh karena itu posting berikut ini disajikan sedikit pengertian tentang eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi yang dilengkapi dengan beberapa contoh RPP.

Eksplorasi

Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif.
Pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini secara empirik telah melahirkan disiplin baru pada proses belajar. Tidak hanya berfokus pada apa yang dapat siswa temukan, namun sampai pada bagaimana cara mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Istilah yang populer untuk menggambarkan kegiatan ini ialah “explorative learning”. Konsep ini mengingatkan kita pada pernyataan Lao Tsu, seorang filosof China yang menyatakan “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.” Baca selebihnya

Penilaian Kelas

KONSEP DASAR PENILAIAN KELAS
 
A.  Pengertian Penilaian Kelas
 
Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Jadi penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi.
Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur, teknik dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai. Oleh sebab itu, penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan, dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam kurikulum.
Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya, tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya.  Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. Baca selebihnya

Gambar Persepsi

Di bawah ini terdapat beberapa buah gambar yang kalau dilihat secara sekilas akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun, sebenarnya gambar tersebut mempunyai ukuran yang sama atau mempunyai makna tertentu.

Untuk mencari jawabannya, silakan di download melalui link berikut: Jawaban gambar persepsi

Pengajaran Remidial

Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd



1.     Pengertian Pengajaran Remedial
Dalam proses  pembelajaran  akan  selalu  ada  siswa-siswa  yang memerlukan bantuan baik dalam mencerna materi pelajaran maupun dalam mengatasi   kesulitan-kesulitan  belajar  yang  dialaminya,  sering  ditemui seseorang atau kelompok siswa yang tidak mencapai prestasi belajar yang diinginkan. Hasil belajar seorang siswa kadang-kadang di bawah rata-rata bila dibandingkan dengan hasil belajar teman-teman  sekelasnya, siswa- siswa seperti inilah yang perlu memperoleh pengajaran remedial.
Menurut Suhito  (1986:460)  menerangkan  bahwa  kata  remedial berarti   menyembuhkan,   membetulkan,   atau   membuat   menjadi   baik. Dengan  demikian  pengajaran  remedial  adalah  suatu  bentuk  pengajaran yang  bersifat  menyembuhkan  atau  membetulkan,  atau  pengajaran  yang membuat menjadi baik. Pengajaran  remedial  merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud menyembuhkan atau memperbaiki kesulitan belajar siswa yang diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan siswa.
Aspek-aspek yang diperbaiki dalam pengajaran remedial adalah sebagai berikut.
a)  Cara-cara belajar siswa
b)   Cara mengajar
c)  Materi pelajaran
d)  Alat  belajar  dan  lingkungan  yang  turut  serta  mempengaruhi  proses belajar-mengajar. Baca selengkapnya

Perbedaan Dan Cara Menggabungkan PTK Dengan Lesson Study

Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd


Tulisan ini  bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada guru atau tenaga kependidikan di dalam membedakan antara PTK dengan Lesson Study serta bagaimana cara menggabungkan keduanya di dalam suatu kegiatan. Karena selama ini para guru sering bingung di dalam membedakan PTK dengan Lesson Study yang mempunyai kemiripan di dalam beberapa langkah. Guru dalam hal ini dapat juga melakukan kegiatan sesuai dengan pepatah “sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui”. Namun tulisan ini hanya menjelaskan secara ringkas tentang PTK dan Lesson Study dan mungkin bisa diperjelas dengan mempelajarinya dari bahan lain yang lebih lengkap. Selanjutnya tulisan ini dimulai dari PTK, Lesson Study, dan cara menggabungnya dalam suatu kegiatan.
Penelitian Tindakan Kelas
Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama. Baca selebihnya

Teknik Penghitungan Angka Kredit Dalam Jabatan Fungsional Guru Berdasarkan Permeneg PAN Dan RB Nomor 16 Tahun 2009


Oleh : Amal Maliki
(Guru SMAN 1 Poleang Kec. Poleang Kab. Bombana)

A. Pendahuluan

Pada bab XIII pasal 46 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa : " Dengan berlakunya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini, Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku". Masih pada peraturan ini pada pasal 47 disebutkan bahwa "Peraturan Menteri Negara dan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan". Karena peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 ditetapkan pada tanggal 10 November 2009, berarti berdasarkan pasal 47 di atas pemberlakuan peraturan ini mulai tanggal yang disebutkan di atas. Disamping Peraturan Menteri di atas terdapat pula Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepagawaian Negara Nomor : 03/V/PB/2010 dan Nomor : 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam peraturan bersama ini pada pasal 42 dikatakan bahwa : "Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2013". Selengkapnya

Berbagai kecerdasan siswa

Menurut buku "Frames of Mind" karya Howard Gardner ada 7 kecerdasan yang dapat terlihat pada setiap manusia, dan masing-masing  tingkatan kecerdasannya akan berbeda

 1.    Verbal Intelligence.
Yaitu orang yang memiliki kemampuan baik untuk memahami penjelasan lisan dari orang lain. Jadi siswa yang memiliki verbal intelligence akan mudah menjawab pada soal-soal yang bersifat hafalan.

2.    Interpersonnal Intelligence. 
Yaitu orang yang memiliki kemampuan baik untuk memahami isi hati orang lain. Biasanya siswa dengan kecerdasan ini memiliki perhatian kepada temannya yang sedang kesulitan..

3.    Intrapersonnal Intelligence. 
Yaitu orang yang mudah bergaul dengan orang lain, walaupun baru mengenalnya. Siswa yang memiliki kecerdasan ini akan popular dalam lingkungan sekolah, dan melalui berbagai kegiatannya seluruh siswa akan mengenalnya. Selengkapnya