S e l a m a t   D a t a n g di Blog Pusat Sumber Belajar SMA Negeri 1 Kota Cirebon Info : Ferifikasi Data Siswa Baru/PPDB SMA RSBI Negeri 1 Kota Cirebon dari tanggal 5 - 15 Mei 2012 silahkan Klik ke www.smansa.ppdbrsbi-cirebon.org

Sabtu, 14 Agustus 2010

Anak


Anak merupakan anugerah, amanah, sekaligus cobaan bagi orangtuanya. Sebagai anugerah dapat kita saksikan betapa bahagianya pasangan suami isteri saat kehadiran buah hati yang diidamkannya. Ketika anak menyambut ayah-ibunya di depan pintu sambil berteriak dengan manja, ‘ayah…ibu…pulang,’ lalu mengulurkan kedua tangannya untuk digendong, seketika itu juga penat ayah-ibunya hilang meski mereka telah bekerja seharian.

Subhanallah! Tapi, anak juga adalah amanah karena ia merupakan titipan Allah untuk dirawat, dibesarkan, dididik, sehingga menjadi mukallaf yang bertanggung jawab atas dirinya sebagai generasi andalan umat seperti diisyaratkan oleh Q.S. 4: 9. Bahkan, anak merupakan cobaan atau ‘fitnah’ (Q.S. 64:15) bagi orangtuanya, terutama karena ia menjadi ajang apakah mereka mampu bersabar meluangkan waktu, tenaga, dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan (sebagai ‘provider’) dalam rangka mendewasakan anak sesuai dengan kehendak Allah (mardhatillah) ataukah hanya terus berkeluh kesah.

Anak terlahir fitrah, membawa potensi-potensi yang siap dikembangkan oleh lingkungannya, terutama orangtua dan keluarga batih yang menjadi ‘sekolah pertama’-nya (al-umm madrasah al-ula, ibu adalah sekolah pertama). Sikap dan perilaku orangtua dan keluarga akan diimitasi oleh anak yang berada di bawah kepengasuhannya. Sulit dibantah bahwa seorang anak tumbuh dan berkembang sejalan dengan interaksinya dengan lingkungan dimana ia berada. Kurt Lewin, seorang psikolog, menyusun sebuah rumus tentang perilaku manusia sebagai berikut: B = f (P x E), dimana B adalah behavior (tingkah laku), f adalah fungsi, P adalah person (pribadi), dan E adalah environment (lingkungan). Dengan demikian, seperti teori convergensi, bahwa perpaduan potensi bawaan dengan bentukan lingkungan yang akan mempengaruhi hidup seorang anak hingga dewasa. Oleh karena itu, nilai-nilai harus ditanamkan sejak dini bahkan sejak anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Mempertontonkan bagaimana sebuah nilai dipraktekkan adalah cara terbaik, karena anak adalah imitator ulung. Apa pun yang dilihat dan didengar akan ditiru dalam kesempatan lain.

Perlu disadari bahwa anak adalah tetap anak, bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Pengajaran nilai-nilai tidak boleh dalam bentuk paksaan, tetapi cukup dengan meneladankan, mempraktekkan, menyelipkan dalam dongeng atau cerita, menuntunkan, membiasakan dalam suasana yang menyenangkan. Sebab, manusia lahir tidak memiliki pengetahuan meskipun diberi berbagai potensi sejak lahir dan berbagai instrumen seperti pendengaran, penglihatan, dan pemahaman terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. (Q.S. 16:78)

Seperti halnya fisik yang tumbuh dan berkembang secara tertahap (latarkabunna thabaqan ‘an thabaq), nilai-nilai yang diinternalisasikan bertahap pada saatnya akan menjadi sikap hidup (karakter). Sejatinya, pembentukan karakter manusia terjadi secara bertahap hingga sekitar usia dua puluh satu tahun melalui tiga tahap proses. Pertama, compliance, yaitu tahap pembiasaan dan peneladanan terhadap nilai-nilai kebaikan yang diharapkan dapat menjadi sikap hidupnya kelak. Kedua, identifikasi, tahap ini terjadi ketika anak sudah mampu mengidentifikasi dirinya dengan nilai yang diharapkan. Ketika anak mengatakan ‘ih…jorok’ saat melihat rumah berantakan penuh dengan tumpahan sisa makanan dan atau minuman. Ketiga, tahap kristalisasi, yaitu pada saat anak sudah menjadikan nilai-nilai yang diajarkan padanya sebagai perilakunya sehari-hari. Ia sudah setia membuang bungkusan permen ke tempat sampah, setia mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah untuk bertamu dan bertemu dengan sahabatnya, dsb.

Setiap kali anak menunjukkan kemajuan atau menampilkan sebuah nilai yang diharapkan ia berhak dan harus mendapat apresiasi; dengan begitu ia mempeoleh peneguhan (reinforcement) terhadap kebaikan yang dilakukannya. Lebih baik memberi penghargaan daripada mencela atau menghukum. Mendahulukan reward (targib, ganjaran, apresiasi) daripada punishment (tarhib, hukuman) adalah hal terbaik bagi anak. Bukankah Allah telah mengajari kita untuk senantiasa memberi apresiasi pada setiap kebaikan? Kata Allah dalam sebuah hadis qudsi: Inna rahmati sabaqat gadhabi, atau, inna rahmati galabat gadhabi (Sungguh rahmat-Ku selalu mendahului amarah-Ku, atau, sungguh kasih sayang-Ku mengalahkan amarah-Ku). Mengapa pula banyak orang tua yang selalu mencela anaknya setiap saat? Bahkan, menurut Jack Canfield, frekuensi orangtua mencela dan berkomentar negatif kepada anaknya 460 kali daripada memberi pujian dan berkomentar positif yang hanya rata-rata 75 kali perhari. Di kalangan masyarakat kita bahkan masih banyak orang tua melakukan kekerasan kepada anaknya. Berbagai ayat Al-Qur’an menuntun kita untuk berkomunikasi dengan tutur kata yang lemah lembut, benar dan jujur, santun, memberi instruksi dengan kata yang terukur, meskipun saat tertentu dituntut pula berkata tegas jika diperlukan. Al-Qur’an menggunakan beberapa ungkapan misalnya: qaulan layyinan – tutur kata lemah lembut (Q.S. 20:44), qaulan kariman – mulia (Q.S. 17:33), qaulan ma’rufan – dikenal (Q.S. 2:230), qaulan sadidan – benar (Q.S.4:9,33:70), qaulan baligan – jelas (Q.S. 4:63), qaulan maisuran – pantas, terukur (Q.S. 17:28), qaulan tsaqilan – tegas (Q.S. 73:5). Wallahu a’lam. (M. Darwis Hude)
*] Guru Besar Ilmu Pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an [PTIQ] Jakarta