Sabtu, 13 Agustus 2011
Perubahan Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal Kimia SMA
Oleh : Adi Saputra, S.Pd
A. Perubahan Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom pertama kali diperkenalkan oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956 dalam bukunya “The Taxonomy of Education Objectives, The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitive Domain”. Taksonomi Bloom mengkategorikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai kepada tiga domain atau ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif digunakan untuk mengukur intelektual, sedangkan domain afektif digunakan untuk mengukur sikap, dan domain psikomotor bertujuan mengukur praktek.
Ranah kognitif merupakan domain taksonomi yang digunakan untuk mengukur tingkat intelektual berdasarkan satu hirarki kognitif yang disusun dari tingkat rendah hingga ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian, seperti diringkaskan dalam Gambar 1 pada taksonomi yang lama. Selama hampir setengah abad taksonomi ini menjadi rujukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, sekitar tahun 2000 , terdapat beberapa perubahan telah dilakukan untuk lebih bisa mengadobsi perkembangan dan temuan baru dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu diterbitkan edisi revisi buku dari Taksonomi Bloom yang berjudul: “A Taxonomy for Learning and Teaching and Assesing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives”(Anderson, Krathwohl, Airasian, Cruikshank, Mayer, Pintrich, Raths, dan Wittrock, 2000). Antara perubahan yang telah dilaksanakan ialah perubahan terminologi yang digunakan seperti yang ditunjukkan Gambar 1. Sebagai contoh, istilah pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi ditukarkan kepada menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalis, mengevaluasi dan membuat. Selengkapnya
Lima Belas Tips Untuk Menjadi Guru Hebat
Paradigma Pendidikan Memanusiakan Manusia
Oleh:
Adi Saputra
Kecerdasan Berbeda, Gaya Belajar Berbeda, mereka disamakan?
Konon di dunia binatang telah berlangsung musyawarah diantara binatang besar dibawah pimpinan raja rimba Singa. Mereka membicarakan rencana untuk mendirikan sekolah bagi para binatang kecil yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali. Namun dalam musyawarah mereka tidak sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus belajar memanjat, terbang, berlari, menggali dan berenang.
Pada saat sekolah dibuka, para binatang kecil dari seluruh pelosok hutan sangat antusias untuk bersekolah. Seluruh murid bergairah menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Sampai tibalah suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.
Satu murid yang bernama kelinci sangat piawai berlari, namun ketika mengikuti kelas berenang dia hampir tenggelam. Dia berusaha untuk belajar berenang, namun selalu gagal, sehingga mengguncang batinnya. Karena sibuk belajar berenang, si Kelincipun tak pernah dapat lagi berlari secepat sebelumnya.
Pada saat yang sama, murid lain yang bernama Elang mengalami kesulitan dalam pelajaran menggali. Elang yang terkenal pandai terbang, selalu gagal dalam pelajaran menggali, sehingga dia harus mengikuti les pelajaran menggali. Les itu menyita waktu sehingga ia melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat ia kuasai.
Setiap hari kesulitan-kesulitan muncul dan melanda para binatang siswa sekolah. Setiap siswa sibuk memperbaiki pelajaran yang tidak ia kuasai sehingga mereka tidak punya kesempatan lagi untuk beprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Hal ini terjadi karena sekolah tidak menghargai sifat alami mereka. Selengkapnya
Jumat, 12 Agustus 2011
Kegagalan Dan Kesalahan Guru
Mengapa Guru Gagal?
1. Ketidakmampuan untuk mengatur dan mengendalikan kelas.
2. Kurangnya pengetahuan mengenai bagaimana anak-anak tumbuh dan berkembang yangberkaitan dengan interaksi guru dan murid
3. Ketidakmampuan untuk bekerja secara efektif dengan pendidik lain.
4. Ketidakmampuan untuk bekerja secara efektif dengan orangtua siswa.
5. Ketidakmampuan menguasai materi pelajaran yang diampu.
6. Lainnya: amoralitas, pembangkangan, ketidakhadiran, kekerasan pada anak, kepikunan, atau obat-obatan dan alkohol.
Sumber: Riegle, J. D. (1985). What administrator say about why teachers fail. The Teacher Educator. 21 (1), 15-18. Baca selebihnya
Sumber: Riegle, J. D. (1985). What administrator say about why teachers fail. The Teacher Educator. 21 (1), 15-18. Baca selebihnya
Media Pembelajaran Berbasis IT
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke – 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet. Baca selebihnya
Indikator Kualitas Sekolah
Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd
Sebelum masa tahun ajaran baru merupakan momen yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap program sekolah yang telah dilaksanakan pada tahun ajaran sebelumnya dan perbaikan untuk tahun ajaran yang akan datang. Evaluasi dapat dilakukan haruslah menggunakan indikator-indikator tertentu untuk memudahkan di dalam penilaian terhadap bagian-bagian tertentu. Indikator kualitas sekolah berikut merupakan rangkuman dari temuan-temuan penelitian yang banyak dilakukan pada sekolah yang paling berhasil di berbagai Negara, indikator-indikator tersebut antara lain adalah:1. Lingkungan yang Memperkaya
Lingkungan fisik yang rapi dan menarik. Fleksibilitas dalam pengaturan ruang. Siswa secara aktif terlibat dalam pengalaman yang melibatkan kreativitas. Berbagai sumber multimedia digunakan. Memperkaya sekitar sumber belajar.
2. Aman, Mendukung Lingkungan Belajar
Humor yang tepat digunakan. Aturan jelas dan konsisten ditegakkan. Tersedia bantuan tambahan bila siswa membutuhkan. Guru memperlakukan siswa dengan sopan. Guru menggunakan nama siswa dengan baik. Guru memonitor kelas mereka dengan baik dan bergerak ke sekeliling kelas. Baca selanjutnya
Pembelajaran Dengan Eksplorasi, Elaborasi, Dan Konfirmasi
Eksplorasi
Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif.
Pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini secara empirik telah melahirkan disiplin baru pada proses belajar. Tidak hanya berfokus pada apa yang dapat siswa temukan, namun sampai pada bagaimana cara mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Istilah yang populer untuk menggambarkan kegiatan ini ialah “explorative learning”. Konsep ini mengingatkan kita pada pernyataan Lao Tsu, seorang filosof China yang menyatakan “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.” Baca selebihnya
Penilaian Kelas
A. Pengertian Penilaian Kelas
Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. Jadi penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi.
Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur, teknik dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai. Oleh sebab itu, penilaian kelas lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan, dalam hal ini nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam kurikulum.
Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya, tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan. Baca selebihnya
Gambar Persepsi
Di bawah ini terdapat beberapa buah gambar yang kalau dilihat secara sekilas akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun, sebenarnya gambar tersebut mempunyai ukuran yang sama atau mempunyai makna tertentu.
Untuk mencari jawabannya, silakan di download melalui link berikut: Jawaban gambar persepsi
Pengajaran Remidial
Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd
Dalam proses pembelajaran akan selalu ada siswa-siswa yang memerlukan bantuan baik dalam mencerna materi pelajaran maupun dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialaminya, sering ditemui seseorang atau kelompok siswa yang tidak mencapai prestasi belajar yang diinginkan. Hasil belajar seorang siswa kadang-kadang di bawah rata-rata bila dibandingkan dengan hasil belajar teman-teman sekelasnya, siswa- siswa seperti inilah yang perlu memperoleh pengajaran remedial.
Menurut Suhito (1986:460) menerangkan bahwa kata remedial berarti menyembuhkan, membetulkan, atau membuat menjadi baik. Dengan demikian pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud menyembuhkan atau memperbaiki kesulitan belajar siswa yang diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan siswa.
Aspek-aspek yang diperbaiki dalam pengajaran remedial adalah sebagai berikut.
a) Cara-cara belajar siswa
b) Cara mengajar
c) Materi pelajaran
d) Alat belajar dan lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar-mengajar. Baca selengkapnya
Perbedaan Dan Cara Menggabungkan PTK Dengan Lesson Study
Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd
Penelitian Tindakan Kelas
Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama. Baca selebihnya
Teknik Penghitungan Angka Kredit Dalam Jabatan Fungsional Guru Berdasarkan Permeneg PAN Dan RB Nomor 16 Tahun 2009
Oleh : Amal Maliki
(Guru SMAN 1 Poleang Kec. Poleang Kab. Bombana)
Pada bab XIII pasal 46 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa : " Dengan berlakunya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini, Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku". Masih pada peraturan ini pada pasal 47 disebutkan bahwa "Peraturan Menteri Negara dan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan". Karena peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 ditetapkan pada tanggal 10 November 2009, berarti berdasarkan pasal 47 di atas pemberlakuan peraturan ini mulai tanggal yang disebutkan di atas. Disamping Peraturan Menteri di atas terdapat pula Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepagawaian Negara Nomor : 03/V/PB/2010 dan Nomor : 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam peraturan bersama ini pada pasal 42 dikatakan bahwa : "Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2013". Selengkapnya
Berbagai kecerdasan siswa
Menurut buku "Frames of Mind" karya Howard Gardner ada 7 kecerdasan yang dapat terlihat pada setiap manusia, dan masing-masing tingkatan kecerdasannya akan berbeda 1. Verbal Intelligence.
Yaitu orang yang memiliki kemampuan baik untuk memahami penjelasan lisan dari orang lain. Jadi siswa yang memiliki verbal intelligence akan mudah menjawab pada soal-soal yang bersifat hafalan.
2. Interpersonnal Intelligence.
Yaitu orang yang memiliki kemampuan baik untuk memahami isi hati orang lain. Biasanya siswa dengan kecerdasan ini memiliki perhatian kepada temannya yang sedang kesulitan..
3. Intrapersonnal Intelligence.
Yaitu orang yang mudah bergaul dengan orang lain, walaupun baru mengenalnya. Siswa yang memiliki kecerdasan ini akan popular dalam lingkungan sekolah, dan melalui berbagai kegiatannya seluruh siswa akan mengenalnya. Selengkapnya
Kamis, 11 Agustus 2011
WhatI Think
Dan pada diri kamu, apakah kamu tidak memperhatikan ?
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal"
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : "Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. Ali Imran : 190 - 191)
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : "Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. Ali Imran : 190 - 191)
Dua ayat dari surah Ali Imran di atas secara ekslisit menjelaskan proses munculnya atau terkonstruksinya kesadaran spiritual (ESQ) dari pengalaman empiris mengamati, menganalisa dan mengkonklusi penciptaan/kejadian alam semesta (IQ). Ayat ini juga menjadi bukti adanya koneksitas antar berbagai potensi kecerdasan. Potensi Fikir manusia (IQ) jika dimanfaatkan secara holistik, maka dia akan menjadi pengungkit bagi munculnya potensi-potensi kecerdasan lain termasuk ESQ. Selengkapnya
Langganan:
Postingan (Atom)